4 = 2+2
Ada benarnya apa kata Pak Tjia. 4 = 2+2. 4 tahun PhD, 2 tahun biasanya habis untuk sintesis, maksudnya berkutat di bagian kimia, dan sisanya 2 tahun baru masuk ke bagian inti, yaitu fisikanya.
Alhamdulillah … Setelah 2 tahun sintesis yang bikin frustasi, sedikit demi sedikit mulai ditemukan titik terang. Puncaknya minggu ini. Pintu mulai terbuka lebar. Satu atau dua minggu ke depan InsyaAllah semua sudah settle. Amiiiin …
Entering the favorite part, the physics part. Dan siap-siap untuk project baru …
Object Oriented Programming with LabVIEW
Lama betul nggak nulis-nulis di blog ini. Setelah 2 taun berkutat dengan kimia, kimia, dan kimia melulu, akhirnya awal tahun ini ambil keputusan untuk design system baru untuk sintesis thin film, dan mulai berurusan lagi dengan elektronik, interface, mur, baut, pertukangan, dll. Salah satu yang saya suka adalah bermain-main dengan interface menggunakan LabVIEW. Berurusan dengan LabVIEW … ternyata menyenangkan sekali. Hehehe …

Pertama pegang LabVIEW tahun 2005 saat “dipercayai” oleh Pak Agung & Pak Tjia untuk ‘merombak’ program pengukuran low-temperature resistivity di lab Physics of Magnetism & Photonics di ITB. Menggunakan LabVIEW, kita bisa dengan mudah ‘berkomunikasi’ dengan alat, memerintah alat untuk melakukan ini, melakukan itu, memerintah alat untuk bekerjasama dengan alat ini, alat itu.
LabVIEW adalah Object Oriented Programming ter-simple. Dibandingkan dengan programming languages yang ada seperti BASIC, C, atau Pascal, LabVIEW terbilang simple. Sebenernya C dan BASIC juga mengenal object, tapi percaya deh … yang ini jauuuuuh lebih simple. Hehehe … Untuk lebih lengkapnya bisa baca disini. Apa yang harus dilakukan hanya tinggal drag & drop, lalu wire-ing. Sebenernya nggak se-simple itu sih. LabVIEW juga mengenal programming structures (for & while loop dsb.), arrays, dll. Bedanya, tinggal drag & drop, drag & drop, lalu drag & drop, lalu wire-ing.
Mengenai interface dengan alat, alangkah lebih mudahnya (bahasanya … mmmhhh …) jika sudah tersedia instrument driver dari alat yang akan dikomunikasikan dengan komputer. Instrument drivers bisa di-download dengan cuma-cuma.
Di bawah ini adalah code (front panel & block diagram) dari program yang saya tulis pada tahun 2006. Program ini digunakan untuk mengukur resistivity material di berbagai temperature. Instruments yang digunakan adalah Keithley 2400 sebagai Voltage-Current Source & Sense system (menggunakan 4-point probe) dan Lakeshore 330 sebagai ‘pembaca’ temperature. Front panel bisa dibuat se-fancy dan se-menarik apapun.

Front Panel

Block Diagram
Selama block diagram tidak mengindikasikan error (panah putih di pojok kiri atas), program seharusnya berjalan dengan baik.
Kabar terbaru, LabVIEW versi teranyar (LabVIEW 8.5) lebih lengkap. You can even make your own winamp or radio streaming out of it. Di website National Instruments bahkan diberitakan ada orang yang membuat interface antara komputer dengan console game (Wii) dengan menggunakan LabVIEW. Heuheuheu …
Hijrah
Sekitar 4 tahun, tepatnya saya kurang tau, tapi kalau nggak salah pertengahan tahun 2004 lalu friendster mulai nge-trend (paling nggak) di kehidupan saya. Entah, untuk ukuran orang Indonesia, apakah itu bisa dibilang agak telat atau nggak. Bisa jadi saya telat, bisa jadi juga saya termasuk orang-orang pertama yang mengenal friendster di Indonesia. Tapi menurut ‘Engkong Wiki’ sih friendster dibuat tahun 2002, dan mulai resmi didanai investor pada bulan Oktober 2003.
Waktu itu, satu kata, heboh. Pertama kalinya mengenal fasilitas narsis-narsisan di dunia maya. Semua dimasukkan ke halaman friendster. Mulai dari foto (yang dirasa) paling keren sampe hal-hal nggak penting kayak hobby ngupil dan ditempel di bawah meja juga ditulis. :p
Sekarang muncul fasilitas social network baru, yang saya rasa lebih bagus, lebih ‘mewakili’, lebih mumpuni. Namanya Facebook. Kemarin-kemarin sempat terpikir untuk menutup account friendster dan move on with facebook. Bagaimana dengan Anda?
Satu lagi, belakangan gmail mulai membuat saya terpesona. Beberapa account penting di internet dan keanggotaan di milis-milis yang saya ikuti sudah mulai saya alihkan ke account gmail. Catat ya, sy.riyadi@gmail.com. Pengennya s.riyadi@gmail.com, tapi sudah ada yang punya account dengan nama itu; kayaknya sih si Slamet atau si Sugeng atau siapalah yg nama depannya dimulai dengan huruf S. Kenapa ya harus selalu si Sugeng atau si Slamet yang jadi korban pertama saya setiap melihat nama dengan inisial S???
Saling Mendoakan
Sore tadi seorang kerabat, teman, sahabat, kawan, kakak, guru, menanyakan kabar saya, kabar istri, dan kabar penelitian lewat Yahoo Messenger.
“Gimana riset?” Lalu saya bilang, “alhamdulillah, ada kemajuan dikit-dikit. Yah, disyukuri walaupun majunya sedikit-sedikit (sambil ngelus dada).”
“Iya. Sama-sama mendoakan ya,” beliau bilang. “Lagi dalam tahap paling deg-deg-an nih.”
Semacam teringatkan dan ‘terketuk’. Jangan cuma berdoa untuk diri sendiri saja, ya mbok orang lain juga turut didoakan. Habis shalat paling banter berdoa cuma untuk kelancaran riset, istri, orang tua dan keluarga. Selalu khilaf memang. Kita terlalu berkutat dengan aktivitas dan kesibukan pribadi. Terlalu mengkhawatirkan hari-hari ke depan diri sendiri, tanpa ngeh kalau orang-orang di sekitar kita mungkin punya problem yang sama, kekhawatiran yang sama.
Doakan orang lain dan berharap semoga segera mendapatkan dan atau diberikan solusi oleh YANG MAHA MEMBERI atas apapun masalah yang mereka alami.
Ini teh Susu? eh … Salju?
Sekarang akhir November … dan … tadaaaaaa …
Supaya lebih jelas, ini pemandangan dari jendela kamar:
Salju tiba-tiba turun mulai kemarin sore. Padahal masih bulan November. Pengalaman winter terakhir, salju baru turun sekitar akhir Desember. Pengen foto-foto di luar, tapi kok masih nggak enak badan ya. Jadinya terpaksa cuma motret-motret dari balkon rumah.


